Kendari – Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak generasi milenial untuk tidak ragu terjun ke dunia peternakan.
Bidang ini diklaim bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan profesi menjanjikan yang bisa menjadi tulang punggung ekonomi.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanak Sultra, Abdul Rahim Undu, menyebutkan bahwa potensi pasar peternakan di Bumi Anoa masih sangat luas.
Terlebih, kebutuhan protein hewani terus meningkat seiring adanya program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Harapan kita, peternakan ini bisa menjadi profesi. Sebagaimana yang dicanangkan Pak Gubernur agar petani dan peternak itu menjadi profesi yang membanggakan dan menjanjikan hasil,” ujar Abdul Rahim kepada wartawan di Kendari, Rabu 21 Januari 2026.
Abdul Rahim mengungkapkan, saat ini Sultra masih mengalami defisit pasokan telur yang cukup besar.
Dari kebutuhan sekitar 18 juta butir, peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 7 juta butir. Sisanya? Masih harus didatangkan dari Sulawesi Selatan.
Menurutnya, angka defisit ini seharusnya dilihat oleh anak muda sebagai peluang bisnis (cuan) yang nyata.

“Kebutuhan telur dan daging ayam kita masih agak jauh, baru terpenuhi sekitar 40 persen. Ini tantangan sekaligus peluang bagi peternak milenial untuk masuk dan mengisi pasar yang masih kosong itu,” jelasnya.
Ia mendorong anak muda Sultra untuk mencontoh budaya beternak di Sidrap, Sulawesi Selatan, di mana peternakan sudah menjadi industri rakyat yang mapan dan menyejahterakan masyarakatnya.
“Kita lihat di Sidrap, peternakan sudah jadi profesi yang betul-betul memberikan hasil dan kesejahteraan besar. Kita ingin di Sultra muncul peternak-peternak baru yang punya semangat serupa,” tambahnya.
Distanak Sultra pun menyiapkan sejumlah strategi untuk menarik minat milenial, di antaranya:
Hilirisasi Terintegrasi: Program pusat yang akan menyentuh daerah untuk menyiapkan ekosistem dari bibit hingga pakan.
Dukungan Pakan: Mengupayakan SPHP Jagung melalui BULOG untuk menekan biaya operasional.
Pemanfaatan Limbah: Mendorong pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk organik agar memiliki nilai ekonomi tambah.
Meski menjanjikan keuntungan besar, Abdul Rahim menekankan pentingnya rasa suka atau hobi dalam memulai usaha ini. Baginya, ketekunan adalah kunci utama dalam menghadapi dinamika usaha peternakan.
“Peternakan itu ada sisi daya tarik kesenangannya, hobi. Kalau sudah senang, peternak akan perhatian dan berupaya maksimal. Harapan saya, masyarakat tetap menjadikan peternakan sebagai bidang usaha mandiri demi kedaulatan pangan kita,” pungkasnya.
Pemerintah Provinsi Sultra pun berharap pemerintah kabupaten/kota turut bersinergi menjadikan sektor peternakan sebagai arah kebijakan pembangunan daerah agar anak muda makin tertarik melirik sektor ini. (red)


Tinggalkan Balasan