RIYADH – Arab Saudi dilaporkan tengah memimpin gerakan diplomatik bersama negara-negara Teluk, termasuk Qatar dan Oman, untuk membujuk Amerika Serikat (AS) agar membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Riyadh menyiratkan adanya “kiamat ekonomi” jika eskalasi militer benar-benar pecah di kawasan tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), langkah darurat ini diambil setelah Washington memberikan instruksi kepada sekutu Teluknya untuk bersiap menghadapi kemungkinan perang.

Berikut poin-poin krusial terkait manuver negara-negara Teluk:

  • Ancaman Selat Hormuz: Negara-negara Arab memperingatkan bahwa konflik akan melumpuhkan Selat Hormuz, jalur urat nadi energi dunia yang memfasilitasi 20% pasokan minyak global.

  • Efek Balik ke AS: Riyadh secara tegas menyebut upaya meruntuhkan pemerintah Iran hanya akan memicu kenaikan harga komoditas ekstrem yang justru akan memukul balik ekonomi AS melalui inflasi global.

  • Risiko Domestik: Arab Saudi sangat mewaspadai risiko gejolak dalam negeri jika serangan tersebut sampai pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

  • Kedaulatan Wilayah: Kekhawatiran jatuhnya proyektil atau rudal nyasar ke wilayah kedaulatan negara-negara Teluk menjadi alasan kuat penolakan perang.

Sebagai bentuk nyata posisi netralnya, Arab Saudi telah menyampaikan pesan tegas kepada Teheran dan Washington. Riyadh menyatakan tidak akan membiarkan wilayah udaranya digunakan oleh militer AS untuk melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.

“Pejabat Arab Saudi menegaskan posisi mereka kepada Teheran bahwa Riyadh akan tetap netral. Mereka tidak akan membiarkan wilayah udara digunakan untuk konfrontasi yang dipimpin AS,” tutur sumber internal sebagaimana dikutip Middle East Monitor , Kamis (15/1/2026).

Selain urusan minyak, negara-negara Teluk Diingatkan Washington agar tidak mengejar agenda perubahan rezim ( regime change ) di Teheran. Langkah mencontohkan kekuasaan di Iran dianggap sebagai tindakan berbahaya yang dapat memicu konflik berkepanjangan dan mendestabilisasi kawasan secara permanen.

Hingga saat ini, ibu kota negara-negara Teluk terus melakukan lobi intensif agar Washington memilih jalur deeskalasi demi menjaga stabilitas ekonomi dan politik global yang tengah rapuh. (red)

11 / 100 Skor SEO