KENDARI, – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) tepat pada malam pergantian tahun. Fenomena hujan petir diprakirakan akan “mengepung” sejumlah kota besar, termasuk Kendari, Baubau, dan Kolaka pada Rabu, 31 Desember 2025.
Berdasarkan data prakiraan cuaca terbaru, kondisi atmosfer di Bumi Anoa menunjukkan peningkatan kelembapan yang signifikan, mencapai rentang 72 hingga 98 persen. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghadirkan petir dan angin kencang di tengah perayaan malam tahun baru.
Kota Kendari menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus. Setelah sempat berawan pada beberapa hari sebelumnya, ibu kota provinsi ini diprediksi akan diguyur hujan petir dengan suhu udara rata-rata 24–30 °C. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Kota Baubau, Kabupaten Konawe Kepulauan, dan Buton Tengah.
Selain wilayah perkotaan, wilayah kabupaten yang diprediksi mengalami hujan petir pada 31 Desember meliputi:
Konawe Selatan dan Konawe Utara
Muna Barat dan Buton Tengah
Wakatobi (intensitas sedang ke tinggi)
Sebelum memasuki malam puncak pergantian tahun, beberapa wilayah daratan seperti Kolaka Timur dan Buton Selatan diprediksi akan mengalami fenomena udara kabur. Rendahnya jarak pandang ini dipicu oleh tingginya kadar uap air di udara yang mencapai puncaknya pada 30-31 Desember.
“Masyarakat yang berencana merayakan malam tahun baru di ruang terbuka diimbau untuk tetap waspada dan menyiapkan rencana cadangan. Kelembapan tinggi yang mencapai 99 persen di beberapa wilayah seperti Konawe dapat memicu cuaca yang sangat dinamis,” tulis laporan prakiraan cuaca tersebut.
Ketidakstabilan cuaca ini diperkirakan tidak hanya berhenti di malam pergantian tahun. Pada tanggal 1 dan 2 Januari 2026, potensi hujan petir justru meluas ke wilayah Bombana, Kolaka, dan Konawe.
BMKG menyarankan bagi warga yang akan melakukan perjalanan wisata lintas kabupaten, terutama melalui jalur laut menuju Wakatobi atau menggunakan jalur darat di pegunungan Kolaka, untuk terus memantau pembaruan cuaca secara berkala demi keselamatan. (red)



Tinggalkan Balasan