KENDARI – Matahari baru saja menyembul di ufuk timur Bumi Anoa saat puluhan pemuda berseragam olahraga memecah kesunyian kawasan Tugu MTQ, Kendari, Sabtu (20/12). Tak ada formasi baris-berbaris yang kaku atau derap langkah sepatu PDH yang lazim melekat pada citra mereka.

Pagi itu, tangan-tangan yang biasa menggenggam tali pengibar bendera justru akrab dengan sikat dan air sabun.

DDi bawah bayang-bayang tugu ikonik tersebut, Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Sulawesi Tenggara sedang merajut makna baru tentang pengabdian.

Merayakan ulang tahun ke-36 organisasi, sebanyak 400 anggota PPI memilih jalan sunyi yang jauh dari seremoni mewah, turun ke jalan untuk “berperang” melawan noda membandel dan sampah plastik.

Gerakan bertajuk “MTQ Berapi-api” (Bersih dan Rapi) ini bukanlah sekadar aksi sapu-sapu formalitas. Ada presisi dan disiplin yang diterapkan, layaknya mereka menjaga langkah di lapangan upacara. Panitia membagi area secara detail; setiap kelompok bertanggung jawab penuh atas kebersihan trotoar sepanjang empat tiang lampu.

Dengan bantuan tangki air yang diangkut mobil pikap, para anggota Paskibra se-Sulawesi Tenggara ini bahu-membahu menyikat lantai trotoar sepanjang 700 meter di Jalan Abunawas. Noda hitam yang menahun di atas ubin perlahan memudar di bawah sikat-sikat bertenaga para pemuda ini.

Ketua PPI Sultra, Andi Ady Aksar, melalui Pengurus PPI Sultra, Rahmat Mansyur, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian nyata organisasi terhadap lingkungan dan ikon daerah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Paskibraka tidak hanya hadir saat upacara bendera saja. Melalui instruksi Ketua PPI Sultra, Andi Ady Aksar, kami bergerak untuk mengedukasi masyarakat dengan jargon #nongkrongboleh, sampah jangan! Ini adalah upaya kami mengajak warga Kendari kembali mencintai ikon kotanya,” ujar Rahmat Mansyur di sela-sela aksi.

Bakti mereka tak berhenti di urusan estetika kota. Tak jauh dari keriuhan sikat dan air, sebuah tenda merah berdiri tegak di dekat area Drive Thru Bank Sultra.

Di sana, suasana terasa lebih khidmat. Sejak pukul 07.00 WITA, para anggota PPI dan warga sekitar bergantian menyingsingkan lengan baju.

Melalui unit donor darah PMI Provinsi Sultra, tetes demi tetes darah dikumpulkan sebagai kado bagi kemanusiaan. Aksi ini seolah menjadi pengingat bagi publik bahwa dedikasi seorang Paskibraka terus mengalir melalui sumbangsih nyata bagi nyawa sesama, bahkan setelah tugas di lapangan hijau usai.

Sebelum aksi bersih-bersih dan donor darah dimulai, kawasan MTQ sempat digetarkan oleh suara lantang yel-yel peserta Latihan Gabungan (Latgab). Pertemuan lintas generasi ini menjadi ruang untuk mempererat ikatan emosional, memastikan bahwa nilai-nilai kedisiplinan tetap terjaga meski seragam kebesaran telah dilepas.

Perayaan HUT ke-36 ini ditutup dengan deklarasi kebersihan bersama di depan Tugu MTQ. Sebuah janji yang diucapkan dengan lantang bahwa keindahan kota adalah tanggung jawab kolektif, bukan semata tugas petugas kebersihan.

Di trotoar Abunawas, PPI Sulawesi Tenggara telah memberi kesaksian bahwa pengabdian paling tulus sering kali ditemukan dalam tindakan sederhana—setetes darah untuk kehidupan, dan seutas tenaga untuk kota yang lebih bermartabat. (red)

22 / 100 Skor SEO